Di pantai ini biasnaya banyak wisatawan yang photo, menikmati sunset dan lainnya. Tebing di tanjung layar yg tinggi ini pas untuk mereka yang mau photo-photo.
follow @dulang777 di twitter
Kawasan Pantai Sawarna yang membentang di pantai selatan Lebak, Provinsi Banten, dalam satu dasawarsa terakhir muncul sebagai tujuan wisata baru.ns.
Sawarna salah satu tempat Wisata yang ada di lebak selatan yang merupakan object wisata di Lebak Selatan.
Mercendise wisata pantai Sawarna dari dulang777, pemesanan bisa melalui Online Shop kami di Fans Page "dulang777"
Uniknya Penginapan DI Sawarna: Homestay dan Villa
Mau Ke Sawarna? Ini loh Tempat – tempat Wisata di Desa Sawarna yang menarik untuk di kunjungi
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
Saat dapat informasi ada acara ngetrip ala backpacker ke Baduy Dalam, saya sangat antusias, langsung cari panitia dan daftar saat itu juga. Selain waktu keberangkatannnya sudah mepet, saya pikir acara seperti ini susah dan jarang ditemukan. Kalau tidak sekarang, kapan lagi ada kesempatan?
![]()
Saya orang USA, alias Urang Sunda Asli. Tapi sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di bumi Baduy yang saya tahu dari pelajaran saat sekolah dasar dulu kalau Baduy itu salah satu suku terasing di wilayah Jabar (saat itu Banten masih masuk di Provinsi Jabar). Banyak keunikan serta hal-hal lain yang tidak saya tahu mengenai Suku Baduy dan hal-hal lain yang berkaitan dengannya. Padahal saya keturunan Sunda, domisili pun tidak terlalu jauh ke lokasi Suku Baduy. Kalau seumur hidup ini belum pernah menginjakkan kaki disana, oalah, apa kata Dunia? Malu dong!
Bukan tidak ingin sejak dulu jalan ke Baduy, masalahnya dulu ya karena sikon saya yang tidak memungkinkan. Sekarang, saat saya bisa memastikan ikut, so why not? Biaya perjalanannya murah lagi karena even jalan ini murni backpackeran. Jadilah saya menjadi peserta trip ke Baduy, bersama delapan teman lainnya (lima laki-laki dan tiga perempuan) di minggu pertama bulan Mei 2012 itu.
Sabtu 5 Mei 2012 kami berangkat menggunakan kereta ekonomi pemberangkatan pertama jam 07.10 jurusan Catang dengan tarif karcis Rp. 4.000 per orang. Tak sia-sia selepas subuh berangkat dari base camp menuju Stasiun Kota - Jakarta. Datang pagi-pagi selain udara Jakarta masih terasa segar, terhindar dari kemacetan (walau di beberapa titik tetap kena macet juga) yang menguntungkan adalah kami masih kebagian tempat duduk di kereta.
Kehidupan rakyat kelas menengah ke bawah sangat jelas kita temui dengan mengendarai kereta kelas ekonomi ke arah Merak ini. Menyaksikan para pedagang dengan segala trik merayu pembeli; para penumpang dengan segala macam bawaannya, dari mulai gadget canggih sampai hewan ternak semua masuk di gerbong; anak sekolah, pejabat, buruh, dan mungkin juga para pencopet yang beroperasi semua membaur dalam satu kereta. Hal ini adalah sisi lain yang saya sukai dari perjalanan dengan trip ala backpacker, selain murah ongkos (tidak perlu nunggu kaya untuk bisa traveling dan happy) juga bisa lebih dekat dengan kehidupan nyata rakyat Indonesia.
follow @dulang777 di twitter
Pulau Tunda —sebuah pulau kecil yang baru dihuni sejak 1998 ini terletak di daerah Cilegon – Serang, Banten— memiliki taman bawah laut yang luar biasa. Pulau ini sudah menjadi destinasi wisata laut saya sejak lama, tapi selalu gagal dan entah kenapa setiap kali saya browsing hasilnya selalu tidak memuaskan. Demi rasa ingin tahu & mencoba bepergian a la backpacker, maka pada 2 – 4 October 2009 saya pun berpetualang ksana.
Kami berkumpul di Slipi Jaya untuk menyetop bus jurusan Merak dan dengan ransel (oh, drybag baru lebih tepatnya) dipundak kami semua pun masuk ke dalam bus yang ternyata cukup ramai. Sekitar 1 jam kami berdiri sampe pada akirnya penumpang lain turun dan menyisakan bangku kosong untuk kami.
enyisakan bangku kosong untuk kami.
2 jam kemudian kami tiba di daerah namanya Patung dan kemudian mencarter angkot untuk menuju ke tempat nginap kami malam itu. Kira-kira perjalanan selama 30 menit, kami pun tiba di Pelabuhan Karangantu dan segera tidur karena lelah (FYI, nyamuknya banyak bgt!!!). Saat pulang, saya baru mengamati keadaan sekitar dan ternyata ada kantor Bea & Cukai disana, ada juga kapal patroli sedang merapat dan sekolah perikanan… wah..wah..wah…padahal cuma seperti gang kecil aja, lebih luas juga Muara Angke!
Setelah sarapan, kami melanjutkan perjalanan selama +/- 2 jam naik kapal milik Pak Roso. Semilir angin, cuaca dingin dan bau asap knalpot bikin saya tertidur selama perjalanan. Bgitu tiba di dermaga pulau Tunda, “kok gini??” ucap saya dalam hati…sudahlah, ganti baju, nanti kalo males, tidur lagi aja di kapal…1 menit kemudian kapal berhenti lagi, ya, berhenti..sambil mematikan mesin, tanda kalo disitulah spot yang kami tuju berada (deket bangeeeetttt!!!). Saya yang awalnya males-malesan, bgitu nengok ke bawah “WOW…jernih sekali… Wuih… karang2nya… ikannya” tanpa basa-basi, buka baju kemudian pasang alat “BYUUUUR” lupa semua ngantuk dan malasnya. Sekitar 45 menit kami semua snorkling sampe tiba waktunya makan siang dan kapal pun kembali ke P. Tunda. Sambil menunggu makan siang disiapkan, saya pun melanjutkan tidur saya…nikmat sekali, meskipun beralaskan ubin.
Selesai makan siang, tenaga pun sudah terkumpul kami kemudian menuju spot snorkling selanjutnya (oya, semua spot ini letaknya dekat sekali..jadi kayaknya gak pake nama, hanya di west atau timur, etc).. di tempat ini pun spotnya OK banget!! dan sebagai bonus kami didatangi sekawanan lumba-lumba..mulanya mereka jauh, lalu kami melakukan tepukan2 cantik untuk memanggil mereka dan mereka pun mendekat! selengkapnya baca
follow @dulang777 di twitter

follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
Bday-nya siapa? Suami. Saya udah pusing 7 keliling dari sebulan lalu mau kasih apa ya ke Suami. Dari mikirin kado A-Z sampai akhirnya terlintas untuk ngajakin liburan berdua, terus bingung mau liburan ke mana.
Saya kan tipikal orang yang lebih senang nanya mau kado apa daripada ngasih kado tapi gak terlalu bikin si penerima senang, kan? Saya nanya tuch berkali-kali-kali ke Suami. Dan dia menjawab, “Gak mau apa-apa”.
Akhirnya daripada pusing sendiri, saya bikin games gitu sama Suami. Pas dia lagi santai di rumah, saya sodorin kertas yang sudah digulung-gulung dan ditulis pilihan kado untuk dia.
Yang pertama: Jogja
Yang kedua: Pulau Tidung
Yang ketiga: Sawarna
Dan terakhir: Barang apapun yang dia mau
Setelah berkali-kali milih, dia selalu mengambil Sawarna.
Saya pun mulai dech cari tahu segala macam tentang Sawarna. Beruntunglah ada teman di P24 yang punya website khusus Sawarna yaitu Dulang777.com. Lengkap tuch isinya. Nanya A-Z juga akan dilayani![]()
Permasalahannya adalah: gimana kesananya?
Rencana awal adalah naik Commuter Line tapi Suami menolak karena jadwal Comline baru ada di pagi hari sedangkan rutenya jauh. Yang ada hanya sebentar di Sawarna. (FYI, kita hanya ada waktu saat weekend).
Akhirnya teman saya, owner Dulang777.com, bilang: “Bareng aku aja Mbak naik motor. Aku sekalian pulang ke rumah dari Jakarta.”
Suami: Sip.
Akhirnya Jumat malam kita pergi ke Sawarna dengan motor tapi bermalam di Pandeglang, rumah ayah teman Saya. Baru paginya lanjut ke Desa Bayah, Sawarna.
Jangan tanya rasanya naik motor di perjalanan yang jauh banget, kurang lebih 6-7 jam. SAKIT BANGET! Udah gitu, jalanan Serang HANCUR! Lobang dimana-mana. Hadeuh.
Tapi ada juga spot yang hijau banget di perjalanan…
Sepanjang jalan, saya minta maaf sama Suami kalau dia harus repot naik motor seperti ini. Dan Suami bilang, “Gpp, ini seru banget. Kapan lagi begini? Hhahahaa…”![]()
Begitu hampir sampai, udara pantai sudah mulai tercium and we are sooooo happy. AKHIRNYAAA PANTAIIII!!!
Setiba di sana, cuaca panas banget tapi berhubung girang karena lihat pantai, kita pun semakin semangat untuk lanjutin
perjuanganperjalanan ke Sawarna. Ternyata dari pantai sebelumnya, ada pantai lagi. Wohooo…
Di saat lagi happy mau sampai tujuan, ternyata awan hitaaam banget…mau ujan![]()
Yah namanya juga pasangan yang lagi happy, jadi segelap apapun kita ya ketawa-ketawa aja. Apalagi pas di depan ada pantai lagiiiii![]()
Kami gak lama di Pantai Karang Taraje ini, cuma sebentar ya karena sudah mulai gerimis. Tahukah apa yang terjadi? Tiga menit kemudian, hujan deras SODARA-SODARA. Kuyup tapi tetap lanjutkan perjalanan karena Sawarna sudah di depan mata![]()
Pas pertama lihat jembatan di foto atas, saya langsung jiper, “Ini toh jembatan kayu yang ditulis di blog…duh bisa gak ya naik motor lewat sini karena gak ada pegangan besi gitu” *serem*
Ternyata….bisa![]()
Begitu masuk, banyak sekali homstay di sini. Kita sudah booking di Chalara Homestay.
Kenapa milih di sini? Karena dari para blogger yang nulis tentang Sawarna, mereka merekomendasikan penginapan ini. Bentuknya yang unik dan makanannya yang enak serta pedas. Yeay!
Nah, sampai penginapan, kita langsung keringkan badan. Sayangnya ya itu tadi hujan gak berhenti sampai malam. Terus kita ngapain aja? Sempat sich ke pantai Ciantir tapi ya gerimis dan malam pula jadi cuma sebentar dech. Ngeruweng aja di kamar, becanda-becanda gak jelas hehehe…
Terus hari kedua kita ngapain aja? I’ll let u know later ya. Segini dulu dech postnya![]()
Deva
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
Wah, Jokowi Sampai Juga ke Baduy
Pagi hari itu terjadi perbincangan menarik di sebuah rumah milik seorang warga Baduy Luar, di Kampung Kadu Ketuk, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Pasalnya, yang mereka bahas adalah seputar Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Terdengar aneh memang, tetapi ya itu adanya. Serba kebetulan, dan terjadi begitu saja.
Semua bermula ketika Kompas.com tengah berbincang santai bersama beberapa warga Jakarta yang berlibur dengan berwisata budaya di Kampung Baduy, Sabtu (30/3/2013) pagi. Mengisi pagi sambil menyeruput kopi, lalu bertukar cerita tentang pemimpin Jakarta Baru yang mendadak fenomenal dengan hobi blusukan dan citra merakyat. Di tengah perbincangan, seorang warga Baduy Luar, Lamri Nur Alam, langsung menyambar sambil berkata, "Jokowi ya? Hebat ya, dia?"
Mendengar hal itu, sontak kami semua langsung menoleh ke tempat suara berasal. Tampak Kang Lamri (sapaan akrabnya) duduk tak jauh dari tempat kami meriung. "Akang kenal Jokowi?" tanya salah seorang dari kami. "Kenal mah enggak, cuma tahu aja gitu. Katanya hebat ya pembangunannya, orangnya kecil," jawab Kang Lamri.
Perbincangan yang semula seru membahas Jokowi tiba-tiba bergeser arah kepada Kang Lamri. Kami coba mengorek-ngorek dari mana dan sejauh apa dia mengenal Jokowi. Singkat kata, Kang Lamri ngeh dengan nama Jokowi dari pergaulannya dengan warga di luar Baduy. Sesekali dia juga sempat melihat berita tentang mantan Wali Kota Surakarta itu dari televisi.
Sebagai informasi, warga Baduy (Luar dan Dalam) sering kali menyaksikan televisi yang terdapat di Kampung Ciboleger, kampung terdekat, di luar kawasan Baduy. Warga Baduy memang masih sangat tradisional, semua warga hidup tanpa aliran listrik, otomatis tanpa televisi. Hal yang paling mencengangkan adalah saat Kang Lamri melontarkan pertanyaan tentang siapa itu Jokowi. Kenal nama, tetapi tak tahu Jokowi siapa. Unik.
"Emang dia siapa sih?" ujar Kang Lamri polos.
Kami pun tertawa kecil karena tak menyangka kalau nama besar Jokowi bisa mengalahkan nama ibu kota negara yang dipimpinnya. "Hooo Gubernur Jakarta," kata Kang Lamri setelah kami jelaskan.
Terlalu asyik berbincang, tak terasa gelas-gelas kopi yang semula terisi penuh telah terkuras habis. Belasan menit kami berbincang santai dengan suasana hangat, khas kekeluargaan suku Baduy. Tiba saatnya kami memulai aktivitas lain.
Siang hari, kami mulai bergerak untuk menuju Kampung Gajeboh, masih di kawasan Baduy Luar. Gajeboh adalah kampung keempat, setelah Kadu Ketuk, Marengo, dan Cibalimbing. Awalnya kami ingin menuju Kampung Cibeo, di kawasan Baduy Dalam. Namun, karena sedang bulan Kawalu, selain warga Baduy dilarang masuk ke kawasan Baduy Dalam. Inilah waktu sakral untuk masyarakat Baduy, di mana mereka (warga Baduy Luar dan Dalam) akan berpuasa dan merayakan Lebaran Baduy.
Untuk sampai ke Kampung Gajeboh yang jaraknya sekitar dua kilometer, kami memerlukan waktu tempuh sekitar 120 menit berjalan kaki. Pasalnya, selain kontur tanahnya naik-turun dengan kondisi jalan berbatu, kami juga beberapa kali beristirahat sambil berbincang dengan warga Baduy yang kami temui. Di sepanjang perjalanan tampak rumah panggung dan lumbung padi khas suku Baduy, serta hilir mudik warga Baduy (Luar dan Dalam) yang sibuk dengan aktivitasnya.
Saat kami tiba di Kampung Marengo, kami beristirahat di sebuah rumah warga yang berfungsi ganda sebagai warung. Berbagai kebutuhan pokok dijual di warung yang ditinggali oleh seorang ambu (ibu) berusia paruh baya. Di warung itu, kami berpapasan dengan empat orang yang semuanya warga Kampung Cibeo (Baduy Dalam).
Memang dasarnya warga Baduy sudah ramah sehingga tak sulit bagi kami semua untuk kembali terlibat perbincangan. Banyak hal-hal ringan yang kami bahas. Bercerita soal Jakarta, atau meminta diceritakan mengenai bulan Kawalu langsung dari sumbernya. Kebetulan sekali, salah seorang warga Cibeo itu, Sang-Sang, sangat fasih berbahasa Indonesia. Sang-Sang yang membantu kami menerjemahkan saat kesulitan mencerna bahasa Sunda Baduy yang khas.
Teringat Kang Lamri yang familiar dengan Jokowi, kami coba mengangkat isu yang sama untuk Sang-Sang dan teman-temannya. Hasilnya cukup mengejutkan, "gerombolan" Sang-Sang kenal Jokowi lebih jauh dari yang kami kira. "Tahu Gubernur DKI Jakarta kan," kata Sang-Sang, saat kami tanya apakah kenal dengan Jokowi?
Dari hasil perbincangan, ternyata Sang-Sang cukup hafal dengan suasana Ibu Kota. Ia sering mengantar kerajinan khas suku Baduy yang dipesan warga di Jakarta. Sekali perjalanan pergi-pulang, dia biasa menghabiskan waktu selama 12-14 hari dengan berjalan kaki. Sebagai warga Baduy Dalam, dia memang pantang menikmati fasilitas kendaraan saat bepergian.
Terakhir, dia mengunjungi Jakarta pada tahun lalu, di tengah musim pemilihan gubernur. Kang Lamri dan Sang-Sang merupakan contoh kecil warga pelosok di luar Jakarta yang mengenal sosok Jokowi. Bahkan bagi Kang Lamri, Jokowi lebih dikenal ketimbang jabatannya sebagai pemimpin Jakarta. Semoga berita besar tentang Jokowi berbanding lurus dengan hasil kinerja, semangat perubahan bangsa yang lebih baik, yang dimulai dari Ibu Kota-nya. kompas.com
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
Sawarna, Suguhan Alam dari Pantai sampai Gua
Desa Sawarna di Provinsi Banten sangat menarik untuk dikunjungi. Desa ini punya pantai cantik, gua alam, dan udara yang bersih. Tak ada salahnya menghabiskan akhir pekan di sini.
Sawarna adalah sebuah desa yang terletak di Provinsi Banten Selatan. Desa ini punya sejuta pesona wisata untuk dikunjungi. Menuju ke sini, wisatawan bisa menempuh perjalanan menuju Cibadak di Sukabumi, kemudian melewati Pelabuhan Ratu. Waktu perjalanannya sekitar 6-7 jam dari Kota Bogor.
Sebelum tiba di Sawarna, pelancong akan melewati Pantai Pelabuhan Ratu yang sudah dikenal banyak wisatawan. Perjalanannya cukup seru, karena jalan yang naik-turun serta berkelok. Namun setelah itu, tentunya pengorbanan saat perjalanan akan terbayar oleh keindahan Desa Sawarna.
Ada beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi di Desa Sawarna. Yang paling terkenal keindahannya adalah Pantai Selatan nan menggoda. Langit biru cerah mempercantik pasir putih yang sangat lembut, juga ombak yang berdebur cukup keras.
Beberapa pantai lain yang patut dikunjungi adalah Pantai Ciatir dan Tanjung Layar. Pantai Ciatir punya ciri khas laut yang membentang luas, ombak yang besar dan pasir putih yang halus. Tak ada salahnya mencoba membenamkan diri di pasir putih nan empuk ini. Kalau cuaca cerah, kemungkinan Anda akan mendapat panorama sunset yagn begitu indah!
Ada pula Pantai Tanjung Layar yang menjadi ikon Desa Sawarna. Di pantai ini, terdapat 2 buah batu besar yang menjulang tingg. Panorama sunrise yang indah pun bisa ditemukan di sini. Hembusan ombak yang kencang menabrak karang-karang, sangat khas pantai selatan. Jangan lupa mengabadikan foto-foto kalian di sini!
Desa ini juga punya wisata gua alam yang cukup terkenal, yakni Gua Lalay. Letaknya tak jauh dari pantai. Untuk mencapainya, wisatawan akan disuguhi panorama sawah nan hijau serta jembatan dari kayu. Saat sampai di gua, Anda harus melepas sepatu atau sandal karena air dalam gua setinggi lutut. Jangan lupa membawa senter, karena suasana di dalam gua ini sangat gelap!
Namun pengalaman yang ditawarkan tak kalah dengan pesona pantainya. Konon, menurut warga sekitar, terdapat patung keluarga yang dibuat sendiri. Selain itu ada stalagtit yang masih terawat serta jadi habitat kelelawar.
Bagi wisatawan yang ingin liburan singkat tanpa menghabiskan banyak waktu, Sawarna sangat cocok untuk liburan bersama keluarga, pasangan, dan sahabat-sahabat tercinta. Tak perlu kuatir soal penginapan, karena ada banyak homestay dengan harga terjangkau. Makanan pun sudah disediakan oleh mereka.
Jadi, tunggu apa lagi untuk liburan ke Desa Sawarna?
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
follow @dulang777 di twitter
Angka sepuluh dan sebelas di bulan november memang tidaklah terlalu istimewa. Hanya akhir pekan biasa tetapi entah mengapa tanggal tersebut menarik sekali untuk gue melakukan sebuah perjalanan. Gue pun mengajak Echa yang kala itu juga sedang suntuk berat untuk mencari alternatif liburan. Kebetulan untuk tanggal tersebut, ada beberapa komunitas yang mengagendakan sebuah perjalanan. Tadinya gue dan Echa bingung memilih mau ke Cilacap (Nusakambangan), Pantai Kiluan atau tempat lainnya. Sampai pada akhirnya Echa memberitahukan bahwa dirinya dan teman-teman dari grup The Exist akan berangkat ke sawarna![]()
Gue sendiri malas untuk turut serta mengingat pengalaman teman-teman Tim UG. Mereka mengatakan bahwa jalanan yang ditempuh menuju Sawarna rusak parah. Rasanya gue sedang tidak berminat untuk melakukan perjalanan darat yang memakan waktu apalagi dalam kondisi jalanan yang tidak bagus. Namun, lama-lama gue juga bingung mau ke mana sedangkan liburan sangat gue butuhkan saat itu. Pada akhirnya gue terbujuk juga oleh Echa dan Mia untuk ikut. Jadi, Sawarna sambutlah kehadiran gue!9-11 November 2012
Sekitar jam sepuluh malam, kami berangkat menuju Sawarna dari Plaza Semanggi Jakarta. Sebelumnya gue berkenalan terlebih dahulu dengan para anggota The Exist. Mereka merupakan sebuah grup di Gabung Mulung Tidung 3 yang digelar beberapa waktu lalu. Di tengah perjalanan entah di mana, kami berhenti di sebuah pom bensin. Waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Pergantian hari tersebut akan menjadi sesuatu yang istimewa untuk Tiwi yang berulang tahun. Memang pom bensin bukan merupakan tempat yang romantis ataupun mewah untuk merayakan pergantian usia. Namun apalah arti tempat jika ada teman-teman baik di sekelilingmu. Dengan tulus memanjatkan puja-puji kepada Tuhan, mendoakan semua yang terbaik untukmu. Selamat ulang tahun, Tiwi. Semoga sehat, sukses dan bijak dalam menjalani hidup. Semoga pintamu akan sampai pada-Nya bersamaan dengan asap yang berhembus setelah lilin-lilin kecil itu kau tiup cerita selengkapnya cek disini dan disini
follow @dulang777 di twitter