Rabu, 14 September 2011

Melihat Monumen Romusha di Bayah Banten Selatan


Jika di postingan sebelumnya kami sudah update tentang jalan menuju daerah Wisata Lebak Selatan. Nah sebenarnya kali ini inginnya sih posting tentang Sawarna. Ya, sharing perjalanan dari Malingping menuju Sawarna dan keindahannya. Tapi berhubung ketika di perjalanan kami berhenti sejenak di Tugu Romusha, sepertinya lebih menarik untuk menulis tentang itu.

Tugu Romusha terletak di Wilayah Bayah Lebak Selatan, provinsi Banten. Tugu ini di buat sebagia bentuk penghargaan dan pengingat akan adanya sejarah Romusha di Banten Selatan, terutama di Bayah. Berada di sebelah SLTPN 1 Bayah, tak jauh dari Kantor kecamatan bayah.

Bayah menjadi tempat berkumpulnya Romusha dan pegawai pertambangan sejak Jepang mengeksploitasi tambang batu bara 1 April 1943. Pada awal penambangan, sekitar 20 ribu orang datang dari Jawa Tengah dan Timur, termasuk Parino ini. Parino bekerja sebagai penggali lubang penambangan di Gunung Madur, sekitar 10 kilometer dari Bayah. Dengan luas sekitar 15 ribu hektare, Bayah menjadi satu-satunya tempat yang mengandung batu bara di Pulau Jawa sebelum Jepang datang. Belanda bahkan sudah memberikan izin membuka tambang kepada perusahaan sejak 1903, tapi belum mengeksploitasinya.
Sebelum 1942, kebutuhan batu bara di Jawa dipasok dari Sumatera dan Kalimantan. Namun angkutan pelayan Jepang banyak terpakai kepentingan perang. Jepang ingin Jawa mandiri dalam memenuhi kebutuhan batu bara. Dan Bayah-lah pilihannya Jepang membuka tambang lewat perusahaan Bayah Kozan Sumitomo. Bayah menjadi pusat administrasinya. Mereka membuka jalur kereta api dari Saketi, Kabupaten Pandeglang menuju Bayah –sekitar 90 kilometer. Dari Bayah, kereta bersambung menuju lokasi penambangan seperti Gunung Madur, Tumang dan Cihara. selengkapnya
Di Bayah ini pula, Tan Malaka, Seorang Tokoh Kemerdekaan penah bekerja dan melakukan penyamaran. Dengan Nama Ilyash Husain, kemudian Tan Malaka di melakukan penyamaran dan berbaur dengan Romusha dan masyarakat bayah.

Jasa mereka, para Romusha begitu besar. Tapi jika melihat tugu Romusha, tentu sangat miris. Kondisinya kurang begitu terawat. Adanya sampah dan sisa makanan ketika kami mengunjunginya. Miris.

follow @dulang777 di twitter

0 komentar:

Poskan Komentar